Langsung ke konten utama

Apa Sih Keuntungan Investasi Saham?

Ayooo ngaku siapa yang ga mau dengan profit atau keuntungan??? 
Semua orang kalau investasi pasti mau nya untung dan kalau bisa ga ada risiko, ya kan?
Nah kita akan memepelajari nih apa aja yang kita dapatkan kalau berinvestasi saham di pasar modal Indonesia? 
1. Capital gain 
Capital gain adalah selisih harga saham yang kita beli dengan saham yang kita jual. Sama seperti dagang biasa, kita beli produk A di kota X seharga Rp 100/item lalu kita jual di kota Y seharga Rp 110/item. Apakah saya mendapatkan keuntungan? Jawabannya iya sebesar Rp 10/item. Nah Rp 10/item kalau di dunia investasi pasar modal sering disebut dengan capital gain. Jika kita contohnya ke saham seperti ini. Kita beli saham TLKM (Telkom) seharga Rp 3000/lembar pada harga senin lalu di hari rabu saham TLKM naik menjadi Rp 3100/lembar dimana saat itu kita mempunyai 1 lot. Kita beli senilai Rp 300.000 lalu jual senilai Rp 310.000 maka keuntungan yang kita dapat dengan membeli saham TLKM sebanyak 1 lot yaitu Rp 10.000. 

2. Dividen 
Ini asiknya berinvestasi saham dimana sebagai pemilik perusahaan kita akan menikmati keuntungan dari kegiatan produksi selama dalam kurun waktu tertentu tapi harus bekerja di perusahaan tersebut. Kegiatan itu disebut dengan dividen dimana dapat diartikan dividen adalah bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dan besarannya ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 

3. Tidak ada penyimpanan 
Nah ini beda investasi saham dengan sektor rill katakan tanah dimana tanah setiap tahun bayar pajak sedangkan saham tidak. Saham yang kita miliki akan disimpan di bank kustodian bukan di perusahaan sekuritas. Jadi kalau saham di tahan terus sampai waktu panjang maka yang kita dapatkan yaitu keuntungan dari dividen terus mengalir tiap tahun jika perusahaan untung sehingga kita ga harus bayar pajak penyimpanan setiap tahunnya seperti instrument lain 

4. Pajak relatif kecil 
Siapa yang cintai negeri ini? Siapa yang ingin bangun ekonomi negeri Indonesia? Jika kita ingin bangun ekonomi Indonesia maka INVESTASI SAHAM. Kenapa? Karena dalam melakukan transaksi penjualan saham terkandung pajak untuk negera yaitu PPh sebesar 0.1% dari nilai transaksi penjualan saham. Jadi berapa pajak yang kita bayar sebagai investor saham? Jawabannya tergantung dari fee yang ditetapkan oleh masing-masing perusahaan sekuritas, mayoritas fee beli 0.15-0.18% dan jual 0.25%-0.28% sehingga net di kisaran 0.40%-0.46%. Cukup murah kan? 

5. Likuid 
Sebagai investor kita memerlukan juga proses penyelesaian transaksi yang cepat agar dana yang kita investasikan dapat digunakan untuk kegiatan yang lain. Penyelesaian di Bursa Efek Indonesia saat ini sudah cepat yaitu T+2
Selain itu juga jika kita membeli saham yang mempunyai fundamental laporan keuangan baik atau berada di indeks LQ45 maka tidak perlu pusing bagaimana menjualnya karena akan investor yang ready untuk membeli saham yang ingin kita jual. 

6. Aman 
Selain keuntungan materi yang kita dapatkan, kita perlu juga tingkat keamanan untuk menjaga risiko kehilangan dari investasi saham kita. SRO pasar modal Indonesia sudah melakukan membuat aturan dimana transaksi saham dalam bentuk scripless settlement (penyelesaian transaksi tanpa warkat) sehingga terhindar dari potensi bencana alam atau bentuk kejahatan lainnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NFP Hanya 12.000! Bagaimana Reaksi The Fed di FOMC November 2024 ?

Sumber: Bloomberg Data Non-Farm Payrolls (NFP) terbaru menunjukkan hasil mengejutkan: hanya 12.000, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 100.000. Angka ini membuat banyak pihak berspekulasi mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) pada 6-7 November 2024. Yuk, kita kupas bagaimana data ini bisa memengaruhi keputusan suku bunga The Fed dan apa dampaknya bagi pasar! Apa Itu NFP dan Mengapa Penting untuk The Fed? Non-Farm Payrolls atau NFP adalah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang mencakup jumlah pekerja baru, kecuali sektor pertanian. Data ini sering menjadi acuan untuk melihat kesehatan ekonomi AS. Jika NFP tinggi, ekonomi dianggap sedang tumbuh dan lapangan kerja melimpah. Sebaliknya, NFP yang rendah bisa jadi tanda pelemahan ekonomi. Dengan hasil yang jauh di bawah ekspektasi, angka NFP kali ini mengindikasikan kemungkinan penurunan aktivitas ekonomi. Dalam konteks ini, The Fed perlu mempertimbangkan apakah merek...

Setiap Lonjakan Minyak Selalu Berujung Resesi, Apakah 2026 Akan Mengulang Sejarah?

Ada satu pola yang hampir tidak pernah gagal dalam 165 tahun terakhir: ketika harga minyak melonjak tajam, ekonomi global biasanya menuju krisis. Ini bukan opini, tapi fakta historis. Dari data panjang sejak abad ke-19, setiap spike besar selalu punya “nama”: 1864: Perang Saudara AS 1973: Embargo minyak Arab 1979: Revolusi Iran 1990: Perang Teluk 2008: Krisis finansial global Lonjakan harga minyak global sepanjang sejarah yang dipicu oleh krisis geopolitik,  Sumber:   Goldman Sachs Global Investment Research , Bloomberg, Federal Reserve , BP Statistical Review, Haver Analytics Dan sekarang, 2026 kita kembali melihat pola yang sama. Menurut laporan Goldman Sachs , lonjakan harga minyak saat ini memang signifikan, tetapi masih lebih kecil dibandingkan krisis 1980 dan 2003. Sekilas terlihat “belum berbahaya”. Namun justru di sinilah letak risikonya: pasar bisa jadi sedang meremehkan situasi. Kenapa minyak sangat krusial? Karena minyak adalah “jantung” ekonomi global. Ketika harg...

Market Anomali 2026: Rupiah Melemah, IHSG Menguat

Pasar keuangan Indonesia memasuki fase yang semakin kompleks di awal 2026. Tekanan eksternal berupa penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen risk-off global mendorong pelemahan Rupiah ke level yang semakin rentan. Namun, di tengah tekanan nilai tukar tersebut, pasar saham domestik justru menunjukkan resiliensi, tercermin dari penguatan IHSG yang didorong oleh valuasi saham yang semakin atraktif bagi investor asing, khususnya di sektor perbankan besar . Outlook Nilai Tukar Rupiah Rupiah masih berada dalam tren pelemahan dengan potensi bergerak menuju kisaran Rp17.077-Rp17.161 per USD. Tekanan utama berasal dari: Penguatan dolar AS sebagai global safe haven di tengah ketegangan geopolitik global . Fenomena risk-off, di mana investor global mengalihkan dana ke aset berisiko rendah. Secara regional, Rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan performa terlemah di Asia Tenggara , menandakan tekanan eksternal yang relatif lebih besar dibanding negara peers. Pelemahan Rupiah...